
Ada orang yang terlihat sangat baik-baik saja.
Mereka bekerja dengan rapi. Bertanggung jawab. Jarang membuat masalah. Bisa diandalkan. Tidak mudah marah di depan orang lain. Tidak impulsif. Tidak “drama”. Bahkan, dari luar, mereka sering terlihat sebagai orang yang kuat, mandiri, dan punya kontrol diri yang baik.
Namun di balik itu, ada cerita yang tidak selalu terlihat.
Ada rasa lelah karena terus-menerus harus benar. Ada ketegangan karena takut salah. Ada kesulitan untuk menunjukkan perasaan yang sebenarnya. Ada jarak dalam hubungan, meskipun sebenarnya ingin dekat. Ada kesepian yang sulit dijelaskan, karena dari luar hidup tampak “normal” atau bahkan “berhasil”.
Dalam dunia psikoterapi, pola seperti ini sering berkaitan dengan overcontrol — yaitu kecenderungan mengontrol diri secara berlebihan. Untuk pola inilah RO DBT, atau Radically Open Dialectical Behavior Therapy, dikembangkan.
Apa Itu RO DBT?
RO DBT adalah pendekatan psikoterapi berbasis kognitif-perilaku yang dikembangkan oleh Dr. Thomas R. Lynch untuk membantu individu dengan pola overcontrol. Pendekatan ini bersifat transdiagnostik, artinya tidak hanya ditujukan untuk satu diagnosis tertentu, tetapi untuk pola psikologis yang dapat muncul pada berbagai kondisi.
RO DBT banyak digunakan untuk membantu individu yang mengalami pola seperti perfeksionisme yang kaku, kesulitan relasi sosial, depresi kronis atau sulit membaik, anoreksia nervosa, obsessive-compulsive personality style, serta kesulitan lain yang ditandai oleh kontrol diri yang berlebihan.
Fokus utama RO DBT bukan sekadar “mengurangi gejala”, tetapi membantu seseorang mengembangkan tiga hal penting:
Openness — kemampuan untuk lebih terbuka terhadap pengalaman, masukan, dan kemungkinan baru.
Flexibility — kemampuan untuk lebih lentur ketika menghadapi perubahan, ketidakpastian, atau perbedaan.
Social connectedness — kemampuan untuk membangun hubungan yang lebih hangat, aman, dan autentik dengan orang lain.
Dengan kata lain, RO DBT membantu seseorang belajar bahwa menjadi kuat tidak harus berarti selalu tertutup, selalu benar, atau selalu terkendali.
Mengapa Hubungan Sosial Menjadi Fokus Penting?
Salah satu hal yang membuat RO DBT berbeda adalah fokusnya pada social signaling.
Social signaling adalah cara kita mengirimkan sinyal kepada orang lain melalui ekspresi wajah, nada suara, postur tubuh, cara berbicara, cara diam, dan cara merespons. Sinyal-sinyal kecil ini sangat memengaruhi bagaimana orang lain membaca kita.
Pada orang dengan overcontrol, emosi sering kali disembunyikan dengan sangat kuat. Akibatnya, orang lain mungkin menangkap sinyal seperti:
“Kamu tidak butuh siapa-siapa.”
“Kamu tidak ingin didekati.”
“Kamu baik-baik saja.”
“Kamu dingin.”
“Kamu sulit dibaca.”
Padahal, di dalam, mungkin ada keinginan besar untuk dipahami dan dekat dengan orang lain.
RO DBT membantu klien mengenali bagaimana pola ekspresi, bahasa tubuh, dan respons sosial mereka dapat memengaruhi hubungan. Bukan untuk menjadi palsu atau dibuat-buat, tetapi untuk belajar mengekspresikan diri dengan lebih terbuka, hangat, dan sesuai dengan apa yang sebenarnya dirasakan.
Karena terkadang, masalahnya bukan hanya apa yang kita rasakan. Masalahnya juga bagaimana perasaan itu tidak pernah sampai kepada orang lain.
Apa yang Dipelajari dalam RO DBT?
Dalam RO DBT, klien belajar keterampilan yang membantu mereka menjadi lebih terbuka, fleksibel, dan terhubung. Beberapa area yang biasanya menjadi fokus antara lain:
- Belajar lebih terbuka terhadap masukan
Bagi orang dengan overcontrol, kritik atau feedback sering terasa seperti ancaman. RO DBT membantu klien belajar menerima masukan tanpa langsung menutup diri, membela diri, atau merasa gagal sebagai pribadi.
- Melatih fleksibilitas
Klien belajar mengenali pola kaku dalam berpikir dan bertindak, lalu mencoba respons baru yang lebih lentur. Fleksibilitas bukan berarti tidak punya prinsip, tetapi mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan arah.
- Mengurangi perfeksionisme yang menyakitkan
RO DBT membantu klien membedakan antara standar sehat dan standar yang terlalu menghukum diri sendiri. Tujuannya bukan menjadi asal-asalan, tetapi belajar bahwa nilai diri tidak harus bergantung pada kesempurnaan.
- Meningkatkan koneksi sosial
Klien belajar cara menunjukkan kehangatan, kerentanan, dan keterlibatan sosial secara lebih terbuka. Hal ini penting karena kedekatan emosional sering membutuhkan keberanian untuk terlihat tidak sempurna.
- Mengenali emosi yang selama ini ditekan
RO DBT membantu klien membangun hubungan yang lebih sehat dengan emosi. Bukan dengan meledakkan emosi, tetapi juga bukan dengan menguburnya terlalu dalam.
Apakah RO DBT Sama dengan DBT Biasa?
RO DBT memiliki akar dari tradisi DBT, tetapi fokusnya berbeda.
DBT standar banyak dikenal untuk membantu individu dengan kesulitan regulasi emosi, impulsivitas, atau perilaku yang sulit dikendalikan. Sementara itu, RO DBT dikembangkan untuk pola yang berlawanan: emosi yang terlalu ditahan, perilaku yang terlalu terkendali, dan relasi yang terlalu berjarak.
Secara sederhana:
DBT banyak membantu ketika seseorang merasa “emosi saya terlalu besar dan sulit dikontrol.”
RO DBT banyak membantu ketika seseorang merasa “saya terlalu menahan semuanya sampai saya merasa jauh dari diri sendiri dan orang lain.”
Keduanya sama-sama berharga, tetapi ditujukan untuk pola kesulitan yang berbeda.
Apakah RO DBT Evidence-Based?
RO DBT memiliki dasar riset yang berkembang, terutama untuk kondisi yang berkaitan dengan overcontrol.
Salah satu penelitian besar, yaitu RefraMED randomized controlled trial, meneliti RO DBT pada individu dengan depresi refrakter atau depresi yang sulit membaik. Hasilnya menunjukkan bahwa setelah terapi selesai, peserta RO DBT mengalami penurunan gejala depresi yang lebih besar dibandingkan treatment as usual pada titik 7 bulan. Namun, pada titik 12 bulan sebagai outcome utama, perbedaannya tidak signifikan secara statistik. Ini berarti RO DBT menunjukkan hasil yang menjanjikan, tetapi klaim efektivitasnya tetap perlu disampaikan secara hati-hati.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa peserta RO DBT menunjukkan peningkatan dalam psychological flexibility dan emotional coping. Studi lain mengenai proses perubahan dalam RO DBT juga menunjukkan bahwa perubahan dalam psychological inflexibility dan interpersonal functioning berkaitan dengan penurunan gejala depresi.
Sebuah systematic review tahun 2024 menyimpulkan bahwa RO DBT merupakan pendekatan yang menjanjikan untuk kondisi yang ditandai oleh overcontrol, baik pada remaja maupun dewasa. Namun, penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk memperkuat bukti efektivitasnya pada berbagai populasi dan kondisi klinis.
Dengan kata lain, RO DBT bukan pendekatan “instan” atau “satu terapi untuk semua orang”. Namun, bagi individu dengan pola overcontrol, RO DBT menawarkan kerangka yang sangat relevan: bukan hanya belajar mengurangi gejala, tetapi belajar hidup dengan lebih terbuka, lentur, dan terhubung.
Kapan Seseorang Bisa Mempertimbangkan RO DBT?
RO DBT mungkin relevan bila Anda merasa:
“Saya terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya sangat lelah.”
“Saya sulit menunjukkan perasaan, bahkan kepada orang terdekat.”
“Saya ingin dekat dengan orang lain, tapi tidak tahu caranya.”
“Saya takut salah, takut mengecewakan, atau takut terlihat lemah.”
“Saya sering merasa kesepian, meskipun tidak benar-benar sendirian.”
“Saya terlalu keras pada diri sendiri.”
“Saya merasa harus selalu kuat.”
“Saya sulit menerima perubahan atau ketidakpastian.”
“Saya sudah mencoba memahami diri, tapi tetap merasa seperti ada jarak antara saya dan orang lain.”
Bila kalimat-kalimat ini terasa dekat, bukan berarti Anda pasti membutuhkan RO DBT atau memiliki diagnosis tertentu. Namun, ini bisa menjadi tanda bahwa pola overcontrol layak untuk dieksplorasi bersama profesional.
Penutup: Mungkin yang Dibutuhkan Bukan Lebih Banyak Kontrol
Selama ini, banyak orang belajar bahwa menjadi kuat berarti tidak menangis, tidak meminta bantuan, tidak membuat kesalahan, dan tidak menunjukkan kebutuhan.
Namun dalam jangka panjang, hidup seperti itu bisa sangat melelahkan.
RO DBT mengajak kita melihat kemungkinan lain: bahwa kekuatan juga bisa berarti berani terbuka. Berani menerima bahwa kita tidak selalu benar. Berani mencoba cara baru. Berani menunjukkan sisi manusiawi yang selama ini terlalu lama disembunyikan.
Karena terkadang, penyembuhan tidak dimulai dari menjadi lebih terkendali.
Terkadang, penyembuhan dimulai ketika kita akhirnya merasa cukup aman untuk tidak selalu mengontrol semuanya.
